BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Praktek Ibadah
selain bermakna bagian dari proses penyadaran fitri kemanusiaan sebagai hamba
Allah yang berkewajiban untuk komitmen terhadap ajaran Islam melalui ibadah
mahdah (hablum minallah), juga sebagai proses pembentukan sikap dari perilaku
“uswah hasanah” yang kredibel.
Berdasarkan
pemikiran diatas, Praktek Ibadah termasuk proses pembentukan insan kamil yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta sebagai terapi mentalities
keagamaan, yang pada intinya mencakup bimbingan dan nasehat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian ibadah?
2.
Apa saja hal yang termasuk Ibadah?
3.
Apa saja pembatasan Ibadah yang keliru?
4.
Apa saja pilar ibadah yang benar?
5.
Bagaimana supaya ibadah agar diterima oleh
Allah?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian ibadah
2.
Untuk mengetahui hal-hal yang termasuk ibadah
3.
Untuk mengetahui pembatasan ibadah yang keliru
4.
Untuk mengetahui pilar-pilar ibadah yang benar
5.
Untuk mnegetahui cara ibadah yang diterima oleh
Allah SWT
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi)
berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi),
ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu
antara lain adalah:
1. Ibadah adalah taat kepada Allah
dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
2.
Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla,
yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah
(kecintaan) yang paling tinggi.
3.
Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang
dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan,
yang zhahir maupun yang bathin.[1]
Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan
dan anggota badan. Rasa khauf, raja', mahabbah, tawakkal, raghbah,dan rahbah adalah ibadah qalbiyah.
Sedangkan shalat, zakat, haji dan jihad adalah ibadah badaniyahqalbiyah. Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang
berkaitan dengan hati, lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan
manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki
sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku
makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan
lagi Sangat Kokoh." [Adz-Dazariyat : 56-58][2]
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan,
hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka,
akan tetapi merekalah yang membutuhkannya; karena ketergantungan mereka kepada
Allah, maka mereka menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya. Maka siapa
yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang menyembahNya
tetapi dengan selain apa yang disyari'at-kanNya maka ia adalah mubtadi'. Dan siapa yang hanya
menyembahNya dan dengan syari'atNya, maka dia adalah muk-min muwahhid.[3]
B. Macam-Macam
Ibadah Dan Keluasan Cakupannya
Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua
macam keta-atan yang nampak pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati.
Seperti dzikir, tasbih, tahlil dan membaca Al-Qur'an; shalat, zakat, puasa,
haji, jihad, amar ma'ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim,
orang miskin dan ibnu sabil . Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya, khasyyatullah, inabah (kembali)
kepadaNya, ikhlas kepadaNya, sabar terhadap hukumNya, ridha dengan qadha' -Nya,
tawakkal, mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya.
Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku
seorang mukmin jika diniatkan qurbah
atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun
bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya. Seperti tidur,
makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai
kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah
yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas hanya
pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal.[4].
C.
Paham-Paham Yang Salah Tentang Pembatasan Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Apa yang tidak disyari'atkan berarti bid'ahmardudah, sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Artinya : Barangsiapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak." [Hadits Riwayat. Al-Bukharidan Muslim]
Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima,
bahkan ia ber-dosa karenanya, sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan ta'at.
Ke-mudian manhaj yang benar dalam
pelaksanaan ibadah yang di-syari'atkan adalah sikap pertengahan. Antara
meremehkan dan malas dengan sikap ekstrim serta melampaui batas. Allah
Subhanahu wa a'ala berfirman kepada NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Artinya : Maka tetaplah kamu pada jalan
yang benar, sebagaimana di-perintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah
taubat be-serta kamu dan janganlah kamu melampaui batas." [Hud : 112]
Ayat Al-Qur'an ini adalah garis petunjuk bagi
langkah manhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu dengan ber-istiqamah
dalam melaksanakan ibadah pada jalan tengah, tidak kurang atau lebih, sesuai
dengan petunjuk syari'at (sebagaimana yang diperintahkan padamu). Kemudian Dia
menegaskan lagi dengan firmanNya: "Dan
janganlah kamu melampaui batas."[5]
Tughyan adalah
melampaui batas dengan bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta
mengada-ada. Ia lebih dikenal dengan ghuluw.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengetahui bahwa tiga orang dari sahabatnya melakukan ghuluw dalam ibadah, di mana seorang dari mereka berkata, "Saya puasa terus dan tidak berbuka",
dan yang kedua berkata, "Saya shalat
terus dan tidak tidur", lalu yang ketiga berkata, "Saya tidak menikahi wanita". Maka
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Adapun saya, maka saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur, dan saya menikahi perempuan. Maka barangsiapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari (bagian atau golongan)-ku." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
"Artinya : Adapun saya, maka saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur, dan saya menikahi perempuan. Maka barangsiapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari (bagian atau golongan)-ku." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Ada Dua Golongan Yang Saling Bertentangan Dalam
Soal Ibadah.
1. Golongan yang mengurangi makna ibadah serta
meremehkan pelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya
melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syi'ar-syi'ar tertentu dan
sedikit, yang hanya diadakan di masjid-masjid saja. Tidak ada ibadah di rumah,
di kantor, di toko, di bidang sosial, politik, juga tidak dalam peradilan kasus
sengketa dan dalamperkara-perkara kehidupan lainnya.
Memang masjid mempunyai keistimewaan dan harus
diperguna-kan dalam shalat fardhu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup
seluruh aspek kehidupan muslim, baik di masjid maupun di luar masjid.
2. Golonganyang bersikap berlebih-lebihan dalam
praktek ibadah sampai pada batas ekstrim; yang sunnah mereka angkat sampai menjadi
wajib, sebagaimana yang mubah mereka angkat menjadi haram. Mereka menghukumi
sesat dan salah orang yang menyalahi manhaj mereka, serta menyalahkan
pemahaman-pemahaman lainnya. [6].
Padahal
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang bid'ah.
D.
Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan
pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb,
khauf dan raja'. Rasa cinta harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan
khauf harus dibarengi dengan raja' . Dalam setiap ibadah ha-rus terkumpul
unsur-unsur ini.
.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin:
"Artinya
: Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." [Al-Baqarah:
165].
..
Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman menyifati
para rasul dan nabiNya.
"Artinya :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam
(mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami
dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada
Kami." [Al-Anbiya': 90].
.
Sebagian salaf berkata: Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah dalam Risalah Ubudiyah.
1.
Siapa yang menyembah Allah dengan rasa hubb
saja maka ia zindiq.
2.
Siapa yang menyembahNya dengan raja' saja maka ia adalah murji.
3.
Siapa yang menyembahNya hanya dengan khauf
saja, maka ia adalah haruriy.
4.
Siapa yang menyembahNya dengan hubb, khauf dan
raja' maka ia adalah mukmin muwahhid.
E.
Syarat diterimanya Ibadah
Agar bisa
diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali
dengan ada syarat.
1.
Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik
besar dan kecil.
Konsekuensi
dari syahadat laa ilaaha illa-llah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah
hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepadaNya
2.
Sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu
'alaihi wa sallam.
Konsekuensi
dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya ta'at kepada
Rasul, mengikuti syari'atnya dan meninggalkan bid'ah atau ibadah-ibadah yang
diada-adakan.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : (Tidak demikian) bahkan
barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan,
maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [Al-Baqarah: 112]
3.
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya
memurnikan ibadah kepada Allah. Wahuwa muhsin (berbuat kebajikan) artinya
mengikuti RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam .
Syaikhul Islam mengatakan:
"Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah,
dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang Dia syariatkan, tidak dengan
bid'ah."
Seba-gaimana
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya :
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya."
[Al-Kahfi
: 110][7]
F.
Peran
dan Fungsi Ibadah
Peran dan fungsi ibadah terbagi menjadi 2 yaitu peran dan
fungsi ibadah secara umum dan secara khusus
1.
Peran dan fungsi ibadah secara umum
2. Peran dan fungsi ibadah secara
khusus.[8]
,
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Ibadah adalah merendahkan diri
kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai
dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi
2. Ibadah itu
banyak macamnya. Ia mencakup semua macam keta-atan yang nampak pada lisan,
anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil dan
membaca Al-Qur'an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma'ruf nahi mungkar,
berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil . Begitu
pula cinta kepada Allah dan RasulNya, khasyyatullah,
inabah (kembali) kepadaNya, ikhlas kepadaNya, sabar terhadap hu-kumNya, ridha
dengan qadha' -Nya, tawakkal, mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya.
3. Tughyan adalah
melampaui batas dengan bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta
mengada-ada. Ia lebih dikenal dengan ghuluw.
4. Sesungguhnya
ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb, khauf dan raja'.
5. Agar bisa diterima,
ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali dengan ada
syarat.
a.
Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik
besar dan kecil.
b.
Sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu
'alaihi wa sallam.
B.
Saran
Setelah penuis menyelesaikan penulisan
ini maka penulis akan menyarankan bagi para penganut Islam yang taat agar
senantiasa belajar dalam membedakan mana perkara yang diperintahkan dan mana
yang tidak. Supaya ibadadh kita tidak sia-sia dan sesat.
C.
Penutup
Semoga makalah yang penulis
susun dapat membantu bagi para pembaca dalam membina ibadah yang baik dan
benar. Namun kritik dan saran sangatlah penulis harapkan dem
[1]http://abuafif.wordpress.com/2007/08/09/pengertian-ibadah-dalam-islam/ Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir
Jawas
[2]http://kaahil.wordpress.com/2012/08/25/lengkap-definisi-makna-pengertianarti-ibadah-yang-benar-dalam-islam-definisi-ibadah-menurut-syaikhul-islam-ibnu-taimiyyah-macam-macam-ibadah-syarat-syarat-diterimanya-ibadah-pilar-pilar/ Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah
[3]http://www.senyummuslim.com/pengertian-ibadah-paham-nan-salah-tentang-ibadah-syarat-diterimanya-ibadah-penciptaan-manusia-35.htm/Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir
Jawas
[4]http://blog.re.or.id/syarat-ibadah.ht
[5]Ibid.
[7]http://blog.re.or.id/syarat-ibadah.htm
[8]http://recyclearea.wordpress.com/2009/09/08/peranfungsi-dan-tujuan
ibadah/
No comments:
Post a Comment